Saturday, January 11, 2014

Leptospira

Genus Leptospira berbentuk spiral halus dengan kedua atau salah satu ujungnya membengkok seperti kait, lebih kurang 6-20 µm x 0,1 µm.  Leptospira hidup parasitik (bebas) bersifat aerob obligat, tumbuh baik pada suhu 28-30 ͦC, sering di dalam air dan hidup pada pH alkali, serta bergerak aktif.  

Secara garis besar Leptospira dapat dibagi menjadi 2 spesies yaitu leptospira interrogans  yang patogen dan Leptospira biflexa yang bersifat saprofit.  Spesies yang patogen dapat dibagi dalam 16 serogrup dimana tercakup 150 serotip (serovar).  

Leptospirosis sebetulnya adalah penyakit patoda pada hewan (zoonosis).  Infeksi pada manusia terjadi secara kebetulan.  Reservoir Leptospira adalah tikus dan binatang mengerat lainnya, dapat juga ditularkan melalui babi atau binatang ternak lainnya, serta dapat ditularkan oleh anjing. 

http://commtechlab.msu.edu/sites/dlc-me/zoo/zah0162.html
Leptospira interrogans (gambar dari http://commtechlab.msu.edu)  

 
Infeksi Leptospira terjadi karena masuknya kuman lewat luka di kulit atau lewat mukosa yang masih utuh tanpa menimbulkan kelainan setempat.  Infeksi terjadi melalui makanan atau minuman yang tercemar urin hewan reservoir.  Kuman juga dapat masuk melalui konjungtiva atau luka kecil sewaktu mandi di kolam renang atau di sungai yang tercemar.

Masa tunas adalah 10-12 hari kemudian diikuti gejala klinis demam mendadak dan menggigil, sakit perut dan muntah-muntah.  Penderita akan mengeluh sakit otot, sakit kepala hebat, dan epistaksis, dan dapat ditemukan konjungtivitis.  

Pada kebanyakan kasus dijumpai ikterus pada hari ke 5.  Hati mengalami pembengkakan.  Pada hepatitis akibat leptospira ini sering disertai dengan peningkatan serum kreatin fosfokinase. Leptospira dapat dijumpai di dalam seluruh tubuh penderita pada minggu pertama.  Leptospira akan menyerang ginjal sehingga dapat ditemukan dalam urin penderita sampai dengan hari ke empatpuluh.

Akibat fatal dari penyakit ini adalah serangan pada ginjal sampai menyebabkan gagal ginjal sehingga perlu dilakukan dialisis.  Apabila mengenai saraf pusat juga dapat mengakibatkan meningitis ataupun ensefalitis.  Untuk keperluan diagnosis laboratorium pemeriksaan dapat berupa darah, cairan LCS, dan urin.  Darah dan likuor serebrospinal dapat ditemukan pada minggu pertama infeksi.  Pemeriksaan urin dapat dilakukan mulai minggu kedua hingga hari ke 40.  

Pemeriksaan serologi penting dilakukan bagi diagnosis Leptospirosis.  Pada umumnya antibodi baru ditemukan setelah hari ke 7 atau ke 10.  Titernya akan selalu meningkat dan akan mencapai puncaknya pada minggu sakit yang ke 3 atau ke 4.  Untuk tes serologi ini dapat digunakan cara aglutinasi mikroskopis atau makroskopis atau tes hemaglutinasi.  Imunitas yang timbul setelah infeksi bersifat spesifik terhadap serotip tertentu.  Imunitas akan menetap bertahun-tahun.

Darah dalam sediaan tebal dan spesimen urin diperiksa dengan mikroskopis lapangan gelap.  Untuk Kultur bahan pemeriksaan ditanam dalam perbenihan cair atau semisolid yang mengandung serum kelinci 10 % dan ditambahkan 5 fluorourasil sebagai selective inhibitor. 

Pewarnaan menggunakan pewarnaan BK (Becker-Krantz).  Proses pewarnaan BK (Becker-Krantz) pada leptospira sebagai berikut :
1.       Tetesi sediaan pada objek glass dengan Larutan Ruge Ross selama 1 menit dimana tiap 0,5 menit dibuang.
2.       Cuci dengan air
3.       Tetesi dengan asam Tanat
4.       Panaskan di atas api hingga mengeluarkan uap
5.       Cuci dengan air
6.       Warnai sediaan dengan Gentian karbol
7.       Panaskan selama 2 menit
8.       Cuci dengan air
9.       Keringkan dengan diangin-anginkan, sediaan siap diamati dibawah mikroskop.

gambar diperoleh dari http://www.ceropath.org/rdbsea/parasite/leptospira%20interrogans




Thursday, April 11, 2013

Ping Pong Fenomena

Oleh : Ghazia Sekar Negari

Purwokerto - Makin berkembang dunia ini, penyakit kelamin makin banyak.  Fenomena bola ping pong agaknya semakin sering kita lihat.  Seorang wanita baik-baik A punya suami B yang suka berganti-ganti pasangan bersetubuh, akan terkena penyakit kelamin dari suami B yang diperoleh dari pasangan gonta-gantinya.  Atau seorang pria baik-baik D yang tidak pernah berhubungan dengan pasangan lain tapi mempunyai istri E yang telah berhubungan dengan laki-laki lain F yang ternyata punya penyakit kelamin akibat berhubungan dengan perempuan lain G dan H, pria D akan tertular penyakit dari si pria F melalui vagina E.  Dapat juga wanita I dengan pria J yang suka sama-sama berganti pasangan berhubungan badan akan saling menularkan penyakit kelamin.  Demikian fenomena bola pingpong yang semakin berkaitan satu sama lain.

Gejala paling dini dari penyakit kelamin oleh seorang wanita adalah keputihan yang abnormal.  Salah satu tanda keputihan itu adalah berbau, gatal, perih dan ada tanda-tanda radang.  Sebaiknya dalam kondisi ini tidak melakukan hubungan kelamin dulu untuk menghindari penularan ke pasangan, hingga penyakit tersebut dapat diobati.  Bagaimana dengan pria ?  Pria pun dapat terkena keputihan.  Dari penisnya dapat keluar sekret atau cairan yang berwarna dan berbau tidak sedap.

Sebagai dokter tidak boleh menyingkirkan gejala awal dari suatu penyakit.  Jangan sampai melupakan anamnesis yang mendalam serta pemeriksaan penunjang dari gejala yang ada.  Sering adanya suatu keputihan akan ditangani dengan obat-obatan antibiotik ataupun anti jamur namun tidak mengalami kesembuhan.  Kadang kita lupa ada satu lagi penyakit kelamin yang disebabkan bukan dari golongan mikroba ataupun jamur.  Penyakit ini disebabkan dari golongan parasit.  Parasit tersebut adalah Trichomonas vaginalis, parasit patogen yang ada pada manusia.  Trichomonas vaginalis adalah flagellata yang berbentuk piriform tidak berwarna dan aktif bergerak.  Dia mempunyai daya tahan kuat diantara parasit lain, dia akan mati pada suhu 50 derajat Celcius dalam waktu 4 menit, tetapi tahan dalam suhu 0 derajat Celcius.  Di dalam suasana asam di bawah pH 4,9 ia kehilangan kemampuan untUk hidup, oleh karena itu ia tidak dapat hidup pada cairan vagina wanita remaja yang bersifat asam dengan pH 3,8 dan 4,4.

Tempat hidup parasit ini adalah vagina wanita dan uretra, epididimis dan prostat pada pria, sehingga sering ditemukan dalam urine.  Pada wanita, gejalanya paling jelas daripada pria.  Flagellata ini menyebabkan peradangan pada vagina dan dapat memburuk.  Jumlah flora bakteri dan kondisi dari vagina mempengaruhi beratnya infeksi parasit ini.

Pada vaginitis yang disebabkan flagellata ini, vagina akan teraba lunak, tampak hiperemis kadang-kadang terlihat adanya perdarahan kecil-kecil dan pada proses lanjut terjadi proses granulasi.  Permukaan vagina tertutup oleh cairan yang seropurulen berwarna kekuningan atau kuning, sering terkumpul di daerah forniks posterior.  Penderita mengalami gatal-gatal dan panas dan mengeluarkan cairan leukorik yang banyak dan gatal, luka berbintik-bintik serta hiperemi atau kemerahan.  Bisa dibedakan dengan keputihan yang disebabkan oleh jamur yang tidak disertai rasa panas.

Trichomonas vaginalis
gambar diperoleh dari wikipedia.org
Pada pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis pasti penyakit ini adalah dengan menemukan flagellata ini pada cairan atau sekret vagina yang masih segar pada pemeriksaan mikroskopis.  Pada kultur cairan vagina dapat meningkatkan hasil positif apabila pada pemeriksaan cairan segar tidak ditemukan parasit.

Pada pria lebih sulit menegakkan diagnosis karena gejala tidak terlihat serius dan nyata.  Penyakit sudah dalam tahap keparahan yang tinggi ketika gejala baru diketahui.  Apabila diketahui dengan pasti ada seorang wanita memiliki penyakit yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis, pasangan dari wanita tersebut pun harus diobati.  Hal ini untuk menghindari terjadinya fenomena bola pingpong sehingga pengobatan dan kesembuhan dapat tuntas.  Pada laki-laki pemeriksaan dilakukan dengan memeriksakan cairan prostat atau dapat juga cairan urin. 
Two Trichomonas vaginalis parasites, magnified (seen under a microscope)
gambar diperoleh dari www.cdc.gov

Akhir kata, sebagai filosof penulis akan berkata “Setialah pada pasangan anda”, sebagai seorang medis, “Jagalah kesehatan pasangan anda karena hal tersebut akan menjaga kesehatan anda sendiri”.  Sebagi seorang komersil, gunakanlah kondom.  (gsn/79/10)


*) Dimuat pada majalah kedokteran, teknologi, ilmu pengetahuan & entertainment FK UNSOED  Medical Torch Edisi V September 2006”.

Sunday, March 25, 2012

3 hal dalam kehidupan yang mempengaruhi 3 hal lainnya

Purwokerto - Orang tua mengatakan, setiap manusia yang dilahirkan di dunia, menangis kuat, sudah dituliskan takdirnya. Ada 3 hal yang sudah pasti, jodoh, rejeki dan kematian. Seorang sahabat juga mengatakan, hidup di dunia itu sebuah persinggahan dalam perjalanan menuju tujuan yang utama, yaitu Yang Maha Satu. Dalam setiap perjalanannya manusia mempunyai kisah yang berbeda-beda. Seseorang yang saya hormati mengatakan bahwa takdir itu seperti sebuah perjalanan, ambil contoh adalah orang-orang yang berjalan di atas eskalator sebuah bandara atau sebuah mall. Ada orang yang berdiri menatap lurus ke depan, ada yang sambil berpangku dagu menatap sebuah etalase fast food, ada yang berdiri serong menatap sebuah etalase distro pakaian, ada yang menatap langit-langit, bahkan ada yang menunduk saja. Seperti itulah takdir, seperti ketika kita menatap etalase - etalase, bila kita menoleh ke tempat lain maka etalase yang dilihat akan berubah, sesuai arah pandangan kita.

Perjalanan menuju Yang Maha Satu diwarnai oleh berbagai macam hal. Ada yang namanya sebuah hati. Hati itulah yang akan menjadi sebuah lahan ujian dari Yang Maha Satu untuk manusia sebelum mereka bertemu denganNya. Karena Allah SWT melihat manusia bukan dari apa yang dikenakannya, bukan dari jabatannya dan bukan dari kegantengan atau kecantikan manusia itu, melainkan melihat hatinya.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad-jasad kalian dan tidak juga kepada rupa-rupa kalian akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati kalian (dan amalan-amalan kalian)” (Hadits Riwayat Muslim)

Untuk itulah yang diuji Allah adalah hatinya, sesuai sebuah hadist sebagai berikut :

"alaa inna fil jasadi mudghah, idzaa shaluhat shaluha jasadu kulluhu waidzaa fasadat fasada jasadu kulluhu, alaa wahiyal qalbu" ( ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan apabila ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya ingatlah ia adalah hati ) diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Seperti layaknya sebuah ujian, amalan-amalan ibarat pensil dan doa ibarat penghapus. Sedangkan hati ibarat kertas ujian. Apabila yang ditulis adalah keburukan dan tidak disertai kepasrahan dalam bentuk doa maka kertas yang putih bersih akan berisi coretan-coretan tidak berguna. Sehingga kertas tersebut tampak buruk, hati manusia yang buruk akan membuat seluruh tubuh buruk. Maka amalan-amalan yang baik dan doa yang baik dan penuh kepasrahanlah yang akan menjadi penolongnya.

Hasil dari amalan-amalan tersebut akan tampak nyata setelah ujiannya selesai. Apakah akan lulus dengan nilai pas-pasan, apakah akan lulus dengan nilai memuaskan atau apakah tidak lulus. Bahkan bisa ditemukan sebuah situasi mengisi lembar ujiannya dengan mencontek atau asal mengisi jawaban, dan ternyata lulus dengan nilai memuaskan, namun orang tersebut tidak tahu apa yang telah dikerjakannya.

Demikianlah ujian di dunia seperti yang kebanyakan orang katakan ada 3, yaitu harta, tahta dan wanita. Ada manusia yang diuji hanya menyangkut masalah harta saja, ada yang hanya tahta saja, ada yang wanita saja, namun ada juga yang diuji harta dan tahta, ada juga yang diuji harta dan wanita ada juga yang diuji tahta dan wanita, semua sesuai tingkatan iman dan takwa masing - masing manusia itu, mungkin bila sudah melewati tingkatan yang sesuai apabila sudah lulus, bisa terjadi ketiga hal tersebut diuji dalam waktu yang bersamaan, harta, tahta dan wanita.

Bagi orang-orang yang berpikir, maka ketiga hal tersebut saling berkaitan. Banyaknya harta dan tingginya jabatan sering diiringi dengan cobaan godaan wanita. Ujian yang ada, tidak bisa dihindari, tapi harus dihadapi, tinggal cara kita saja memilih jalan untuk menyelesaikan ujian tersebut.

Dengan keimanan dan ketakwaan masing-masing, banyak manusia yang bisa melewati ujian Allah dengan baik. Namun banyak juga yang gagal. Sesuai janji Allah SWT dalam firmanNya,

"Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya" (Al Baqoroh 286).

Sehingga, keridhoan dan keikhlasan dalam menjalani ujianNya lah yang akan menolong orang tersebut di dalam kehidupannya. Serta yakin bahwa semua akan terlewati tanpa ada prasangka terhadap Yang Maha Pelindung dan tetap berhusnudzon terhadapNya. Karena, manusia yang tidak kuat dalam menjalani ujianNya jatuh ke dalam prasangka buruk bahkan keluar dari jalanNya akan menjadi manusia yang kufur.

Janganlah menjadi manusia yang berputus asa. Tapi percayalah selalu terhadap janji Allah dengan menguatkan iman, yakin terhadap qodo dan qodarNya.

Percaya pada qodo dan qodar termasuk dalam rukun iman, maka melalui pemahaman 3 hal yang mempengaruhi 3 hal lainnya di dalam kehidupan, yaitu ujian mengenai harta, tahta, dan wanita yang mempengaruhi takdir jodoh, rejeki dan kematian, sebaiknya membuat manusia tidak melakukan suatu pertaruhan dalam menentukan langkah hidup di dalam menggapai ketakwaan. Sebaiknya memilih pilihan hidup berdasarkan keyakinan dan kemantapan hati, setelah melalui proses ujian yang tentunya akan memberikan hasil yang terbaik bagi insan itu sendiri.

Dan pada akhirnya kita semua bertemu Allah SWT dengan wajah berseri-seri.

Friday, March 16, 2012

BELAJAR DARI ALI IMRAN AS

Oleh: Ghazia Sekar Negari *)


Purwokerto - Angka perceraian di Indonesia sudah mencapai angka yang miris dimana menurut hasil perhitungan terakhir Kementrian Agama RI mencatat terjadinya 250 ribu kasus perceraian di Indonesia pada tahun 2009. Jumlah perceraian tersebut naik 50 ribu kasus dibanding tahun 2008 yang mencapai 200 ribu perceraian dimana di tahun 2009 jumlah perceraian setara dengan jumlah pernikahan sebesar 10% (2,5 juta pernikahan).

Farid Ismail, Sekretaris Badilag mewakili Dirjen Badilag, dalam Focus Group Discussion di Kantor Kedeputian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Wapres RI (18/5/2010) menyatakan bahwa tahun 2009 lalu, perkara perceraian yang diputus Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah mencapai 223.371 perkara. Namun demikian, selama sembilan tahun terakhir, tiap tahun rata-rata terdapat 161.656 perceraian. Farid menyebutkan, ”Artinya, jika diasumsikan setahun terdapat dua juta peristiwa perkawinan, maka 8 % di antaranya berakhir dengan perceraian.”

Hukum.online.com menyebutkan angka perceraian yang tinggi ini justru diakibatkan karena makin maraknya poligami. Poligami terbukti menaikkan angka perceraian, hal ini dibeberkan oleh Dirjen Bimas Islam Depag Prof Nasaruddin Umar mewakili Pemerintah, bahwa catatan Pengadilan Agama di seluruh Indonesia menunjukkan, pada 2004 terjadi 813 perceraian akibat poligami. Setahun kemudian, angka itu naik menjadi 879 dan pada 2006 melonjak menjadi 983. Nasaruddin berujar, “Data ini menunjukkan bahwa poligami justru menjadi penyebab perceraian, mengakibatkan istri dan anak terlantar.”

Tampaknya poligami yang makin marak ini diperkuat oleh asumsi masyarakat yang mengaku berakhlak tinggi sebagai suatu ibadah. Dengan alasan jumlah perempuan yang memiliki ratio lebih tinggi dari laki-laki, poligami digunakan sebagai alat untuk membantu perempuan menemukan pasangan dan jalan untuk menghindari perzinahan. Padahal jumlah perempuan yang lebih banyak tersebut didominasi oleh janda cerai dan yang ditinggal mati suami.

Memang benar poligami dibolehkan oleh Allah SWT sesuai dengan firman Nya, “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilama kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” [An-Nisa : 3]
Namun sasaran dari poligami adalah perempuan-perempuan usia pranikah, dimana hal tersebut sangat bertentangan dengan makna penyelamatan melalui poligami apalagi poligami sebagai ibadah.

Quraish Shihab, mantan Menag menilai poligami bukan ibadah murni. Poligami tidak ada bedanya dengan makan. “Sama saja dengan dokter yang melarang makan demi kesehatan. Padahal kan makan itu juga hak asasi manusia, tapi tetap boleh dilakukan. Nah poligami sama dengan makan,” kata beliau saat menjawab pertanyaan majelis hakim Haryono dalam sidang judicial review UU Perkawinan di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (23/8/2007).

Tujuan pernikahan, imbuh Quraish, membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warohmah. Sakinah artinya ketenangan yang didapatkan setelah seseorang mengalami suatu gejolak. Ketika orang sendiri, maka dia sering merasa asing. “Nah perkawinan itu menemukan seseorang yang cocok, maka yang didapat adalah ketenangan. Ini berarti setiap usaha yang tidak menciptakan ketenangan, maka bertentangan dengan perkawinan,” jelas dia.

Soal mawaddah yang berarti kosong, kata Quraish, maksudnya adalah kosongnya jiwa dari niat buruk pada pasangan. Dan yang kedua, tidak ingin ada yang lain selain pasangannya. “Jadi masih ada perasaan ingin memiliki yang lain, maka itu tidak mawaddah,” ujarnya. Keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah, kata dia, tetap bisa bertahan meskipun sang suami berpoligami. Asalkan, sang istri rela berkorban demi suaminya yang ingin berpoligami dengan alasan-alasan tertentu.
Alasan-alasan tertentu inilah yang sering menjadi perbincangan dan perdebatan masyarakat. Salah satu alasan yang sulit untuk dihindari adalah alasan tidak memiliki keturunan.

Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), alasan poligami yang diajukan harus jelas, yakni istri tidak dapat memberikan keturunan, istri tidak dapat menjalankan fungsinya, dengan baik, istri memiliki cacat tubuh atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
Ada suatu idealisme yang sangat kuat dari seorang laki-laki mengenai keturunan. Dan yang paling kuat adalah idealisme menyangkut agama, bahwa dengan banyak istri akan memiliki banyak anak. Dengan banyaknya anak ini diharapkan akan memperluas umat, namun kadang laki-laki salah kaprah dalam menjalaninya dengan melupakan kualitas keturunannya.

Tidak dikaruniainya keturunan dari seorang pasangan, titik kelemahannya tidak hanya terletak pada pihak perempuannya saja, tapi menjadi satu kesatuan, tidak boleh dipisah-pisahkan antara lelaki dan perempuan. Dapat disimpulkan dalam Novak’s Gynecology oleh Yao dan Daniel (2002) bahwa kesuburan dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor laki-laki dan faktor perempuan.
Jadi ketika seorang laki-laki meletakkan permasalahan tidak adanya keturunan dalam rumah tangga adalah kesalahan perempuan maka hal tersebut adalah kesalahan besar. Ujung dari permasalahan ini adalah laki-laki akan mencari jalan keluar dengan cara menikah lagi atau dengan kata lain berpoligami, sedangkan sang istri yang tidak mau dipoligami lebih memilih untuk bercerai.

Perceraian adalah hal yang sangat dibenci oleh Allah SWT, sesuai dengan HR. Abu Daud dan dinyatakan Shahih oleh Hakim berbunyi : “yang halal yang paling dibenci Allah adalah perceraian”.

Asmidar melalui situs resmi Pengadilan Agama Muara Bungo menyebutkan bahwa perkawinan adalah suatu hal yang sakral, hidup dalam hubungan perkawinan merupakan Sunnah Allah dan Sunnah Rasul, sebaliknya melepaskan diri dari kehidupan perkawinan itu menyalahi sunnah Allah dan RasulNya. Dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 2 dikatakan bahwa perkawinan adalah suatu ikatan yang sangat kuat “Miitsaaqan ghalidhan”, suatu ikatan yang tidak boleh putus kecuali apabila salah satu pihak menemui ajalnya.

Andaikan laki-laki dan perempuan mau belajar dari Ali Imran, maka angka perceraian yang didasarkan hanya karena poligami dan tidak adanya keturunan dapat ditekan. Imran as dan Zakaria as tidak dikaruniai anak bahkan hingga usianya bisa dibilang renta. Mereka hidup di zaman yang sangat sulit, dimana para nabi saat itu banyak yang dibunuh. Masa dimana hanya segelintir orang yang mau beribadah secara murni kepada Allah SWT, sehingga amat sedikit pula orang yang beriman kepada Nya.
Dalam keadaan tidak memiliki keturunan, Zakaria bin Berkhiya dan Imran bin Saham inilah yang masih tetap teguh beriman dan bertakwa keapada Allah SWT. Keduanya senantiasa memohon kepada-Nya agar berkenan mengaruniai anak penerus keturunan mereka.

“Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: `Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa” (Ali Imran 38).

“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri bersembahyang di mihrab (katanya): `Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari pengaruh hawa nafsu) dan seorang Nabi dan keturunan orang-orang saleh`” (Ali Imran 39).

"Zakariya berkata: `Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul?`. Berfirman Allah: `Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya`” (Ali Imran 40).

Keluarga Imran tidak pernah putus asa dalam ibadahnya, tidak berpaling untuk selalu menahan diri dari hawa nafsu. Tidak ada satu kalimatpun keluar dari mulut keluarga Imran ini yang menghujat Alah SWT mengapa mereka tidak dikaruniai keturunan bahkan dalam tingkah laku mereka. Tidak ada kalimat yang menjelek-jelekkan pasangannya masing-masing. Justru mereka semakin memperkuat ibadah mereka kepada Allah SWT. Bahkan ketika akhirnya mereka dikaruniai keturunan, mereka pasrahkan sepenuhnya kepada Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya, hal ini tampak sekali disadari oleh Ali Imran bahwa anak dan istri hanyalah sebuah titipan, diperkuat dengan firman Allah,
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” (Ali Imran ayat 14),
sehingga dengan sabar Ali Imran menerima nasibnya dan terus meningkatkan ibadahnya kepada Allah.

“(Ingatlah), ketika isteri Imran berkata: `Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Ali Imran Ayat 35).

Asmidar menegaskan bahwa pasangan suami isteri yang telah terikat dalam perkawinan yang sah harus benar-benar ridha terhadap pasangannya masing-masing, suami harus ridha menerima isteri dan isteripun harus ridha menerima suami dengan segala kelebihan dan kekurangannya untuk selanjutnya meneruskan hidup dan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah sebagaimana maksud Firman Allah dalam Al-quran surat Ar-Rum ayat 21 dan dalam Pasal 1 Undang-Undang nomor 1 tahun 1974.
Bukan dengan cara poligami untuk alasan ibadah. Imran as dan Zakaria as pun tidak menggunakan alasan memperbanyak keturunan untuk memperluas agama Allah SWT, karena ia menyadari betul, pengabdian manusia sepenuhnya ada pada kualitas pribadi manusia itu sendiri bukan pada kuantitas banyaknya manusia dilahirkan yang sudah-otomatis- menjadi seorang muslim.

Untuk itu, sudah sepantasnya kita semua belajar dari keteladanan keluarga Imran ini;
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing)” (Ali Imran 33)

Jadi, janganlah mempermasalahkan hal duniawi menyangkut kesenangan yang sementara berupa banyak anak dan banyak istri, namun ada hal lain yang lebih penting menyangkut kemaslahatan umat berkaitan dengan hal surgawi, sesuai dengan firman Allah SWT :

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali Imran 185).

“Dan Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu” (Ali Imran 189).
Sebagai manusia berbudi saatnya kita semua kembali memikirkan hakikat hidup ini;

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (Ali Imran 190).

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):` Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imran 191).

Jadi, masihkah anda menggunakan alasan sebuah “ibadah” untuk melanggengkan poligami?

Purwokerto, November 2010

Thursday, March 15, 2012

kesibukan yang melupakan

Purwokerto - Semakin bertambahnya usia, maka semakin bertambah pula amanah yang harus dijalani. Mungkin sebab itu pulalah, semakin banyak hal yang harus dilakukan. Sehingga kesibukan di dunia nyata membuat aktifnya diri di dunia maya menjadi berkurang. Ternyata sudah 2 tahun lebih saya tidak lagi mengurus blog saya ini. Rasanya rindu sekali menuangkan berbagai macam pikiran di sini. Semoga ke depannya saya sudah bisa memulai lagi menulis di blog saya ini, dan harapannya juga bisa bermanfaat bagi yang membacanya. Ada beberapa blog saya yang sudah tidak bisa dibuka, salah satunya blog friendster, sedih sekali bila ternyata saya belum memback up data data saya di blog saya itu. Bila ada beberapa artikel atau esai yang bisa diselamatkan, maka suatu hari akan saya bagikan di blog saya ini.

Demikianlah, ketika badan dan jiwa raga bisa digerakkan untuk melakukan berbagai hal yang bermanfaat maka hidup ini akan terasa lebih hidup.

Friday, December 17, 2010

Uji ASTO

Titer anti Streptolisin O (ASO/ASTO) merupakan pemeriksaan diagnostik standar untuk demam rheumatik, sebagai salah satu bukti yang mendukung adanya infeksi Streptococcus

Titer ASTO di anggap meningkat apabila mencapai 250 unit Tood pada orang dewasa atau 333 unit Todd pada anak-anak diatas usia 5 tahun, dan dapat dijumpai pada sekitar 70 % sampai 80 % kasus “demam rheumatik akut “.

-------------------------------(http://www.kalbe.co.id)

Sebagian besar dari strain-strain serologik dari Streptococcus Group A menghasilkan dua enzim hemolitik yaitu Streptolisin O dan S.
Di dalam tubuh penderita, Streptolisin O akan merangsang pembentukan antibodi yang spesifik yaitu anti streptolisin O (ASTO) sedangkan yang dibentuk Streptolisin S tidak spesifik.

Reaksi auto imun terhadap Streptococcus secara teori akan mengakibatkan kerusakan jaringan atau manifestasi demam rheumatic, dengan cara :


-->Streptococcus group A akan menyebabkan infeksi faring

-->Antigen Streptococcus akan menyebabkan pembentukan antibodi pada pejamu yang hiperimun.

-->Antibodi bereksi dengan antigen Str eptococcus dan dengan jaringan pejamu yang secara antigen sama seperti Streptococcus.


-->Autoantibodi tersebut bereaksi dengan jaringan pejamu,sehingga menyebabkan kerusakan jaringan.

------------------------------------------------- (Price, 2003)

Pemeriksaan Laboratorium

Ada dua prinsip dasar penetuan ASO, yaitu:

1. Netralisasi/penghambat hemolisis

Streptolisin O dapat menyebabkan hemolisis dari sel darah merah, akan tetapi bila Streptolisin O tersebut di campur lebih dahulu dengan serum penderita yang mengandung cukup anti streptolisin O sebelum di tambahkan pada sel darah merah, maka streptolisin O tersebut akan di netralkan oleh ASO sehingga tidak dapat menibulkan hemolisis lagi.
Pada tes ini serum penderita di encerkan secara serial dan di tambahkan sejumlah streptolisin O yang tetap (Streptolisin O di awetkan dengan sodium thioglycolate). Kemudian di tambahkan suspensi sel darah merah 5%. Hemolisis akan terjadi pada pengenceran serum di mana kadar/titer dari ASO tidak cukup untuk menghambat hemolisis tidak terjadi pada pengencaran serum yang mengandung titer ASO yang tinggi.
-----------------------------------(Handojo,1982)

2.Aglutinasi pasif

Streptolisin O merupakan antigen yang larut. Agar dapatmenyebabkan aglutinasi dengan ASO. Maka Streptolisin O perlu disalutkan pada partikel-partikel tertentu. Partikel yang sering dipakai yaitu partikel lateks.
Sejumlah tertentu Streptolisin O (yang dapat mengikat 200 IU/ml ASO) di tambahkan pada serum penderita sehingga terjadi ikatan Streptolisin O – anti Strepolisin O (SO – ASO).
Bila dalam serum penderita terdapat ASO lebih dari 200 IU/ml, maka sisa ASO yang tidak terikat oleh Streptolisin O akan menyebabkan aglutinasi dari streptolisin O yang disalurkan pada partikel – partikel latex . Bila kadar ASO dalam serum penderita kurang dari 200 IU / ml , maka tidak ada sisa ASO bebas yang dapat menyebabkan aglutinasi dengan streptolisin O pada partikel – partikel latex.
----------------------------------(Handojo,1982)

Tes hambatan hemolisis mempunyai sensitivitas yang cukup baik , sedangkan tes aglutinasi latex memiliki sensitivitas yang sedang. Tes aglutinasi latex hanya dapat mendeteksi ASO dengan titer di atas 200 IU/ml.


Positif (+)

Negatif (-)

1. Control Positif ASTO berisi > 200 IU/ ml

2. Control Negatif ASTO berisi <200 IU/ml